Lingkup.id Jawa Barat Tasikmalaya Wakil Bupati Tasikmalaya Dorong Bank Sampah Pesantren Jadi Solusi Sampah dan Ekonomi
Tasikmalaya

Wakil Bupati Tasikmalaya Dorong Bank Sampah Pesantren Jadi Solusi Sampah dan Ekonomi

Banner Iklan 1400 x 181

Lingkup.id, Tasikmalaya – Wakil Bupati Tasikmalaya Asep Sopari Al-Ayubi mendorong pengelolaan sampah berbasis pesantren melalui Bank Sampah Manage, Build, and Grow (MBG) yang diinisiasi santri Pondok Pesantren Cipasung, sebagai solusi persoalan sampah sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Dorongan tersebut disampaikan Asep saat menghadiri peluncuran Bank Sampah MBG di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Kampung Cipeundeuy, Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (6/1/2026).

Menurut Asep, program MBG merupakan program strategis Presiden RI yang disambut baik masyarakat. Namun, seiring pelaksanaannya, muncul persoalan turunan berupa sampah sisa makanan yang perlu ditangani secara serius.

“Di luar makan bergizi gratis, kita juga dihadapkan pada persoalan sampah sisa makanan. Dengan hadirnya Bank Sampah MBG di dekat Ponpes Cipasung ini, kita melihat ada solusi nyata pengolahan sampah,” kata Asep.

Ia menilai, inisiatif pengelolaan sampah yang lahir dari pesantren dan santri merupakan langkah luar biasa yang patut dijadikan contoh bagi wilayah lain.

“Permasalahan itu bukan untuk disesali. Yang luar biasa, Ponpes Cipasung menginisiasi solusi pengelolaan sampah berkelanjutan. Ini langkah pertama yang sangat baik,” ujarnya.

Atas nama Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, Asep menyatakan dukungan penuh terhadap upaya tersebut dan mendorong agar praktik baik ini dapat direplikasi di pesantren maupun lingkungan lain.

“Kebaikan ini harus terus berlanjut, menular, dan berkembang. Kami akan sampaikan ke pesantren-pesantren lain agar dapat mengikuti langkah serupa,” ungkapnya.

Asep juga menegaskan bahwa pengelolaan sampah melalui Bank Sampah MBG tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.

“Sampah plastik bisa didaur ulang, bahan yang tidak bisa didaur ulang dijadikan briket, sementara sampah organik diolah menjadi pupuk kompos dan pakan maggot. Ini bukan hanya solusi, tapi juga peluang ekonomi,” jelasnya.

Ia berharap, Bank Sampah MBG yang dikelola santri Ponpes Cipasung ini dapat menjadi pilot project pengelolaan sampah berbasis pesantren di Kabupaten Tasikmalaya, bahkan di tingkat nasional.
“Ini bisa menjadi percontohan bagi pesantren lainnya dan daerah lain ke depan,” tambahnya.

Sementara itu, CEO Bank Sampah MBG Ponpes Cipasung, Muhammad Nazmi, menjelaskan bahwa pembentukan bank sampah ini berawal dari persoalan timbulan sampah di wilayah Cipasung yang mencapai 0,5 hingga 5 ton per hari.

“Kehadiran Bank Sampah MBG diharapkan menjadi solusi pengelolaan sampah terpadu, tidak hanya memindahkan sampah tetapi mengolahnya,” kata Nazmi.

Nazmi menambahkan, pengolahan sampah dilakukan dengan memanfaatkan maggot untuk mengurai sampah organik, selain diolah menjadi pupuk kompos yang nantinya dapat dimanfaatkan petani, peternak, dan masyarakat.

 

Exit mobile version