Lingkup.id Serba - Serbi Olahraga & Kesehatan Dari Papan Catur Braille Menuju Kepemimpinan NPCI Kota Bandung
Olahraga & Kesehatan

Dari Papan Catur Braille Menuju Kepemimpinan NPCI Kota Bandung

Banner Iklan 1400 x 181

Lingkup.id – Bandung, Tidak semua pemimpin memulai perjalanannya dari ruang rapat atau kursi organisasi. Ada yang mengawalinya dari sebuah papan catur braille. Di atas papan itulah Yadi Sofian, seorang penyandang disabilitas netra, belajar menyusun strategi, mengambil keputusan, membaca peluang, dan menghadapi setiap tantangan dengan ketenangan.

Pengalaman panjang sebagai atlet kemudian mengantarkannya menjadi sosok pemimpin yang dipercaya menakhodai National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kota Bandung periode 2024–2029.

Kisah inspiratif tersebut berawal di Sentra Wyata Guna Bandung. Di pusat rehabilitasi sosial itu, Yadi pertama kali mengenal olahraga catur bagi penyandang disabilitas netra. Sentra Wyata Guna menjadi saksi tumbuhnya semangat, disiplin, dan rasa percaya dirinya. Dari sanalah ia mulai menapaki perjalanan panjang sebagai atlet yang kelak mengharumkan nama Kota Bandung dan Indonesia.

Bakat yang dimilikinya semakin berkembang setelah bergabung dengan NPCI Kota Bandung. Melalui proses pembinaan yang berkelanjutan, kemampuan analisis dan strategi Yadi terus terasah hingga mampu bersaing di berbagai kejuaraan bergengsi.

Dedikasi dan kerja kerasnya membuahkan hasil membanggakan. Yadi berhasil meraih berbagai medali emas pada ajang Pekan Paralimpik Daerah (Peparda), Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas), ASEAN Para Games, hingga tampil membela Indonesia pada Asian Para Games di China.

Rekam jejak prestasi tersebut menjadi modal kepercayaan dari keluarga besar NPCI Kota Bandung yang secara demokratis memilihnya sebagai Ketua Umum NPCI Kota Bandung masa bakti 2024–2029.

Di luar dunia olahraga, Yadi juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang mengelola usaha klinik pijat. Aktivitas tersebut membuktikan bahwa penyandang disabilitas tidak hanya mampu berprestasi di arena olahraga, tetapi juga mandiri secara ekonomi dan mampu menciptakan peluang usaha. Baginya, olahraga, kemandirian, dan pengabdian kepada organisasi merupakan satu kesatuan yang saling menguatkan.

Saat ditemui di Sekretariat NPCI Kota Bandung, Yadi menegaskan kepemimpinannya akan berlandaskan semangat kebersamaan, transparansi, profesionalisme, dan integritas. Menurutnya, organisasi yang sehat merupakan fondasi utama bagi lahirnya atlet-atlet berprestasi.

“Roda organisasi harus berjalan dengan solid, transparan, dan penuh integritas. Mari kita kesampingkan ego dan berbagai perbedaan, lalu fokus pada tujuan utama, yaitu melayani serta meningkatkan mutu pembinaan atlet. Pengurus harus terus berinovasi dan proaktif membangun kemitraan agar kesejahteraan atlet serta kualitas pembinaan semakin baik,” ujar Yadi.

Kepada para pelatih, Yadi menitipkan pesan agar proses pembinaan dilakukan secara objektif dan profesional.

“Pelatih adalah arsitek di balik lahirnya seorang juara. Saya berharap proses seleksi dilakukan secara objektif. Pembinaan tidak hanya membentuk kemampuan teknik dan fisik, tetapi juga karakter, moral, serta mental bertanding atlet agar tetap tangguh dalam setiap kompetisi,” tuturnya.

Yadi juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Bandung dan DPRD Kota Bandung atas dukungan anggaran pembinaan serta pemberian bonus kadeudeuh bagi atlet berprestasi. Menurutnya, perhatian pemerintah telah memberikan motivasi besar terhadap perkembangan olahraga disabilitas di Kota Bandung.

Meski demikian, ia berharap sinergi tersebut terus diperkuat, terutama dalam penyediaan fasilitas latihan yang aksesibel, peningkatan kualitas pembinaan, serta dukungan pendanaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, Kota Bandung dapat mempertahankan posisinya sebagai salah satu daerah penyumbang atlet paralimpik berprestasi di tingkat nasional.

Kepada para atlet, Yadi menyampaikan pesan yang sarat makna. “Dengan prestasi olahraga, harkat dan martabat kita akan terangkat di mata masyarakat. Jangan pernah berkecil hati karena keterbatasan fisik. Berlatihlah dengan disiplin, rebut prestasi setinggi-tingginya, dan buktikan bahwa penyandang disabilitas mampu mengharumkan nama Kota Bandung bahkan Indonesia di panggung dunia,” tegasnya.

Pesan tersebut mencerminkan hakikat olahraga disabilitas yang tidak semata-mata mengejar medali, tetapi juga memperjuangkan kesetaraan, kemandirian, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Kepemimpinan penyandang disabilitas di organisasi olahraga menjadi representasi bahwa penyandang disabilitas bukan sekadar penerima kebijakan, melainkan juga mampu menjadi pengambil keputusan yang menentukan arah organisasi.

Sejalan dengan ungkapan mendiang Nelson Mandela, “Sport has the power to change the world” (Olahraga memiliki kekuatan untuk mengubah dunia). Dalam konteks olahraga disabilitas, perubahan itu tidak hanya terlihat dari lahirnya para juara, tetapi juga dari hadirnya pemimpin-pemimpin baru yang memahami perjuangan atlet karena pernah menjalaninya sendiri.

Seni Melangkah Tanpa Harus Melihat

Perjalanan hidup Yadi Sofian, dari bidak catur hingga meja organisasi, mengantarkan kita pada sebuah perenungan tentang makna “melihat” yang sesungguhnya. Bagi seorang penyandang disabilitas netra, catur bukan sekadar permainan yang mengandalkan penglihatan, melainkan latihan berpikir, menyusun strategi, memperhitungkan risiko, dan membaca peluang melalui ketajaman akal serta kepekaan rasa.

Kini, ketika memimpin NPCI Kota Bandung, filosofi catur itu tetap hidup dalam setiap langkah kepemimpinannya. Memimpin organisasi ibarat memainkan sebuah pertandingan catur. Seorang pemimpin harus mampu menyusun strategi, menggerakkan setiap unsur organisasi sesuai perannya, membaca tantangan, sekaligus mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan bersama.

Yadi Sofian membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi keluasan visi. Justru dari pengalaman hidup sebagai penyandang disabilitas netra lahir kepekaan, ketangguhan, empati, dan kemampuan memimpin dengan hati. Kepemimpinan seperti inilah yang dibutuhkan organisasi olahraga disabilitas: kepemimpinan yang lahir dari pengalaman, dibangun di atas integritas, dan diarahkan untuk menciptakan kesetaraan.

Pada akhirnya, kisah Yadi Sofian bukan sekadar cerita tentang seorang juara catur yang menjadi ketua organisasi. Ini adalah kisah tentang harapan bahwa setiap penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi, memimpin, dan menginspirasi. Dari bidak catur yang dahulu digerakkannya dengan jemari, kini ia menggerakkan organisasi dengan visi. Dari meja catur itulah, Yadi mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati tidak ditentukan oleh apa yang mampu dilihat mata, melainkan oleh keberanian melihat masa depan dengan hati yang jernih.

Penulis : Yadi Sopyan ( Aktivis Disabilitas )

Exit mobile version