Lingkup.id, Tasikmalaya – Ratusan budayawan, tokoh adat, dan penggiat budaya dari berbagai daerah di Jawa Barat menggelar upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kawasan Batu Mahpar, Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (18/8/2026).
Upacara berlangsung khidmat dengan nuansa berbeda. Para peserta mengenakan pakaian adat Sunda, sementara petugas pengibar bendera tampil menggunakan busana layaknya pengawal kerajaan Sunda pada masa lampau.
Meski mengenakan pakaian tradisional, para petugas tetap menjalankan prosesi pengibaran bendera Merah Putih dengan tertib dan penuh penghormatan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri tokoh-tokoh adat dan budaya dari sejumlah daerah di Jawa Barat, di antaranya perwakilan Sumedang, Cirebon, Indramayu, dan Tasikmalaya. Jajaran Kepolisian Daerah Jawa Barat juga hadir memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Budayawan Jawa Barat, Anton Charliyan, mengatakan kebudayaan memiliki peran penting dalam membangun sebuah bangsa. Menurutnya, kemajuan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh pembangunan ekonomi maupun kekuatan militer, tetapi juga oleh kekuatan budaya.
“Budaya ini akar daripada pembangunan sebuah bangsa. Bangsa-bangsa yang maju di dunia dimulai bukan dari revolusi ekonomi atau revolusi angkatan perang, tetapi revolusi budaya,” ujar Anton.
Ia mencontohkan Jepang yang berkembang melalui Restorasi Meiji serta sejumlah negara Eropa yang tetap mempertahankan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan.
Karena itu, Anton menilai pembangunan di Indonesia semestinya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memiliki wawasan budaya dan lingkungan.
“Semua pembangunan harus berwawasan budaya, berwawasan lingkungan. Negara-negara maju banyak yang tetap menjaga alam dan budayanya,” katanya.
Anton juga menjelaskan, pelaksanaan upacara pada 18 Agustus menjadi ruang bagi para penggiat budaya yang selama ini jarang mendapatkan kesempatan mengikuti upacara kemerdekaan dengan nuansa budaya.
Ia menyebut, terdapat penggiat budaya yang bahkan sudah puluhan tahun tidak mengikuti prosesi penghormatan terhadap bendera.
“Makanya di sini disediakan wadah 18 Agustus. Kenapa 18 Agustus? Salah satu sejarah pembacaan Proklamasi itu 17 Agustus di Jakarta. Tapi upacara itu ada yang dilaksanakan setelahnya. Kita mengambil salah satu versi sejarah untuk kemudian diangkat di Tasikmalaya,” jelasnya.
Menurut Anton, pelestarian budaya juga merupakan bagian dari upaya memperkuat identitas bangsa. Ia menilai negara-negara seperti Jepang, Inggris, Jerman, Finlandia, Swiss, dan Austria tetap mempertahankan budaya serta lingkungan dalam proses pembangunan mereka.
“Apabila bangsa tidak berwawasan budaya, itu berarti bangsa itu akan menuju kehancuran,” tegasnya.
Polda Jabar Dukung Pelestarian Budaya
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan kebudayaan tidak bertentangan dengan semangat nasionalisme. Justru, menurutnya, nasionalisme dapat tumbuh kuat dari budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Justru nasionalisme ini dibangun dari budaya-budaya yang ada di Indonesia. Jadi ini tentu menjadi suatu dasar, fondasi untuk menjadi suatu negara,” ujar Hendra.
Ia mengatakan Polda Jabar mendukung kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga dan merawat budaya Sunda.
Menurutnya, pendekatan budaya juga dapat menjadi salah satu kekuatan dalam menciptakan keamanan karena budaya telah tertanam dalam kehidupan masyarakat.
“Kita selalu adaptif dengan lingkungan yang ada di sini, yaitu adat budaya Sunda. Menjaga dan merawat budaya itu menjadi suatu kekuatan untuk menjaga dan merawat Negara Indonesia,” katanya.
Hendra juga mengapresiasi konsep paskibra budaya yang ditampilkan dalam upacara tersebut. Menurutnya, para petugas mampu menjalankan tugas pengibaran bendera dengan baik meski menggunakan pakaian adat.
“Paskibra budaya ini tidak kalah dengan paskibra yang ada di istana. Ini dilatih oleh adat budaya di sini,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran tokoh adat dan budaya dari berbagai wilayah Jawa Barat menunjukkan besarnya kekuatan kebudayaan dalam membangun persatuan.
“Dari Raja Sumedang, Cirebon, Indramayu, Tasikmalaya, ormas, semua tokoh bergabung hadir di sini. Ini suatu kekuatan yang besar,” kata Hendra.
Selain upacara, kegiatan tersebut juga diisi dengan pemberian penghargaan Galunggung Award kepada puluhan tokoh inspiratif, budayawan, dan tokoh yang dinilai berjasa dalam menjaga serta mengembangkan kebudayaan.
Hendra menyebut pemberian penghargaan kepada tokoh yang berjasa merupakan bagian dari tradisi yang penting untuk terus dipelihara.
“Setiap yang berjasa di negara itu dari zaman dulu sampai sekarang mendapatkan anugerah. Anugerah ini dinamakan Galunggung Award,” ujarnya.
Menurut Hendra, nama Galunggung memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat bagi Jawa Barat. Gunung Galunggung juga dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki kaitan dengan sejarah kerajaan-kerajaan tua di wilayah tersebut.
Penghargaan ini diharapkan tidak hanya menjadi bentuk apresiasi di tingkat Jawa Barat, tetapi ke depan dapat berkembang hingga tingkat nasional bahkan internasional.
Melalui momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI tersebut, para budayawan berharap pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Budaya diharapkan menjadi bagian penting dalam pembangunan nasional sekaligus memperkuat rasa cinta tanah air dan persatuan masyarakat.


