Informasi Olahraga & Kesehatan

Tenis Meja, Olahraga Murah dan Inklusif yang Tingkatkan Kesehatan Lansia

lingkup.id, Bandung – Aktivitas fisik dan olahraga secara teratur memiliki peran penting dalam menjaga kualitas hidup orang lanjut usia (lansia). Tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, olahraga juga berdampak signifikan pada kondisi mental, mobilitas, hingga interaksi sosial.

Hal ini disampaikan oleh Dr. Agus Gumilar, M.Pd, akademisi sekaligus pemerhati olahraga masyarakat, dalam kajian terbaru mengenai peran olahraga, khususnya tenis meja, bagi kesehatan lansia. Menurutnya, olahraga rutin dapat menurunkan risiko penyakit kronis, mengurangi nyeri sendi, memperbaiki kualitas tidur, bahkan mencegah serta membantu mengobati demensia, depresi, dan gangguan kognitif.

“Olahraga amatir, seperti tenis meja, bukan sekadar aktivitas fisik. Ia membuka ruang interaksi sosial, memberi motivasi, dan menjadi sarana pemenuhan diri bagi orang tua. Itu sebabnya olahraga harus dipandang sebagai kebutuhan, bukan sekadar pilihan,” ujar Agus.

Tenis Meja, Olahraga Murah dan Ramah Usia

Dibandingkan cabang olahraga lain, tenis meja memiliki daya tarik tersendiri. Selain murah dan fleksibel, olahraga ini tidak membutuhkan lahan luas serta peralatan mahal. “Inilah alasan mengapa tenis meja sangat populer, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Bahkan di Polandia, 2,8 persen penduduknya aktif bermain tenis meja,” ungkap Agus.

Tenis meja juga memberi manfaat spesifik bagi lansia, mulai dari menjaga kesehatan otak, meningkatkan aktivitas fisik, hingga mencegah demensia. Berbagai program komunitas yang menerapkan tenis meja terbukti mampu meningkatkan keseimbangan, kesejahteraan mental, serta memperluas integrasi sosial lintas usia.

Namun, Agus mengingatkan bahwa intensitas olahraga harus diperhatikan. “Tenis meja adalah olahraga cepat. Bola yang bergerak membutuhkan reaksi tangkas, koordinasi tangan, dan fokus tinggi. Pada lansia, ini berarti olahraga dengan intensitas cukup tinggi, sehingga harus dikontrol dengan baik,” jelasnya.

Risiko dan Kebutuhan Monitoring Kesehatan

Meski bermanfaat, risiko kelelahan tetap mengintai. Beberapa kasus, termasuk meninggalnya maestro seni karawitan I Made Subandi pada usia 57 tahun usai bermain tenis meja, menjadi pengingat bahwa monitoring kesehatan sangat penting.

Menurut Agus, kelelahan tidak semata bisa diatasi dengan istirahat. “Kelelahan bisa muncul karena metabolisme energi yang tidak sempurna. Oleh karena itu, program pemulihan (recovery) sangat diperlukan, terutama bagi lansia,” katanya.

Penggunaan teknologi wearable seperti perangkat monitor detak jantung Polar kini menjadi alternatif penting. Studi terbaru menunjukkan alat ini dapat menilai variabilitas detak jantung dengan akurasi tinggi, bahkan berpotensi menjadi alat prognostik dalam mendeteksi penyakit serius.

“Perangkat semacam ini bisa membantu tenaga kesehatan memantau intensitas olahraga lansia secara real time, sehingga manfaatnya tetap maksimal dengan risiko yang minimal,” tambah Agus.

Latihan Intensitas Tepat untuk Lansia

Riset yang dilakukan Agus mengungkapkan bahwa denyut nadi maksimum dan rata-rata meningkat seiring bertambahnya usia. Faktor lain seperti kebugaran, berat badan, hingga kondisi kesehatan juga memengaruhi.

Untuk itu, ia merekomendasikan agar lansia berolahraga dengan durasi 30–40 menit per hari. “Latihan intensitas rendah hingga sedang sudah cukup memberi manfaat signifikan. Tapi bagi yang kondisi fisiknya lebih baik, latihan kekuatan sedang hingga 85 persen dari kapasitas maksimal dapat meningkatkan massa otot serta fungsi motorik,” jelasnya.

Meski demikian, program olahraga untuk lansia tetap harus menghindari aktivitas berdampak tinggi dan beban berat. “Prinsipnya adalah menjaga aktivitas tetap aman, menyenangkan, dan berkesinambungan. Dengan begitu, olahraga menjadi bagian dari gaya hidup sehat,” tegas Agus.

Mendorong Lingkungan Olahraga Ramah Usia

Lebih jauh, Agus menilai pentingnya menciptakan lingkungan olahraga yang ramah usia. Tidak hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga melatih tenaga kesehatan, pelatih, dan relawan untuk mendampingi.

“Keberhasilan integrasi lansia melalui olahraga sangat bergantung pada keterlibatan banyak pihak. Dengan pendekatan inklusif, kreatif, serta dukungan teknologi, tenis meja dapat menjadi model olahraga masyarakat yang benar-benar membumi,” pungkasnya.***

    Lingkup.id Banner Iklan 960 x 150 px