Lingkup.id Serba - Serbi Informasi Siswa SMK di Subang Sulap Limbah MBG Jadi Manggot Bernilai Ekonomi
Informasi Jawa Barat Pemerintah Pendidikan Subang

Siswa SMK di Subang Sulap Limbah MBG Jadi Manggot Bernilai Ekonomi

Banner Iklan 1400 x 181

Lingkup.id, SUBANG- Limbah makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak selamanya berakhir menjadi sampah. Siswa SMK Genus Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat, membuktikan bahwa sisa makanan dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat melalui budidaya maggot yang berpotensi menghasilkan nilai ekonomi.

Kegiatan yang dilakukan di halaman sekolah pada Jumat (23/10/2026) ini menjadi salah satu upaya menumbuhkan kreativitas siswa sekaligus mengurangi volume sampah organik dari sisa makanan program MBG.

Budidaya maggot tersebut berawal dari keprihatinan terhadap banyaknya limbah makanan yang terbuang. Alih-alih membiarkannya menumpuk menjadi sampah, para siswa berinisiatif memanfaatkan sisa potongan makanan sebagai bahan pakan dalam proses pembesaran maggot.

Dengan memanfaatkan waktu istirahat, para siswa secara bergotong royong merawat wadah budidaya dan mengelola limbah makanan agar dapat digunakan secara optimal.

Kepala SMK Genus, Eva Farhanah, mengatakan saat ini sekolah telah memiliki sekitar 20 ember sebagai wadah budidaya maggot. Hasil budidaya tersebut dinilai cukup menjanjikan, terutama untuk dimanfaatkan sebagai pakan ikan.

“Budidaya maggot ini memanfaatkan limbah sisa potongan makanan dari MBG. Selain prosesnya relatif mudah, maggot juga memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga cocok untuk pakan ikan,” kata Eva.

Menurut Eva, kegiatan ini tidak sekadar menjadi praktik pembelajaran bagi siswa, tetapi juga memberikan pemahaman tentang pentingnya pengelolaan sampah organik. Melalui proses tersebut, siswa belajar bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai manfaat.

Pihak sekolah sengaja melibatkan siswa secara langsung agar mereka mendapatkan pengalaman praktik, mengasah kreativitas, serta memahami peluang ekonomi dari pemanfaatan limbah.

Tak hanya mengembangkan budidaya maggot, SMK Genus juga menjalankan kegiatan produktif lainnya, seperti menanam sayuran dan membudidayakan ikan lele.

Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis praktik yang mendorong siswa untuk lebih mandiri, kreatif, dan memiliki jiwa kewirausahaan.

Budidaya maggot juga membuka peluang pemanfaatan limbah makanan secara lebih berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, maggot dapat menjadi alternatif pakan ikan, sehingga berpotensi membantu menekan kebutuhan pakan konvensional.

Meski demikian, Eva mengakui bahwa menghasilkan maggot berkualitas membutuhkan ketelitian, mulai dari pemilihan bahan baku hingga pengelolaan proses budidaya. Karena itu, perawatan dan pengawasan menjadi bagian penting agar hasilnya optimal.

Ke depan, SMK Genus berharap budidaya maggot dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lebih luas, baik sebagai sarana pembelajaran maupun sebagai contoh pengolahan limbah organik yang produktif.

Inisiatif ini sekaligus menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya menyisakan tantangan dalam pengelolaan limbah makanan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi inovasi lingkungan dan pembelajaran kewirausahaan di sekolah.(HR)

Exit mobile version