
Bogor _ Lingkup.id Nama Sonny Salimi dan Muzakkir dalam bursa seleksi Direktur Bisnis dan Pelayanan Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, menarik perhatian publik. Keduanya bukan ‘orang baru’ dalam ekosistem Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Sonny Salimi adalah mantan Dirut PDAM Tirtawening Kota Bandung selama 3 periode. Sedangkan Muzzakir dikenal sebagai mantan Dirut Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor.
Fenomena ini menciptakan dinamika kompetisi yang ketat mengingat keduanya memiliki rekam jejak kepemimpinan (track record) yang nyata. Lalu bagaimana dengan peluang serta kompetensi kedua calon tersebut.
Sonny Salimi merupakan seorang profesional di bidang pengelolaan air minum dan air limbah serta pengembangan Strategi Unit Bisnis di sebuah BUMD, dengan rekam jejak manajerial selama lebih dari tiga dekade yang dibangun dari level operasional paling dasar sebagai operator hingga mencapai posisi puncak sebagai Direktur Utama.
Dari Kecintaan dan dedikasi serta profesionalitas terhadap pekerjaannya, ia berhasil mengembangkan laboratorium air minum menjadi laboratorium lingkungan dan berorientasi pada profit, yang tersertifikasi dan terregistrasi di Kementerian Lingkungan Hidup dengan omzet saat ini lebih dari 23 Milyar per tahun.
Sonny, memiliki rekam jejak strategis dalam meningkatkan cakupan pelayanan melalui pembangunan SPAM Gedebage dengan kapasitas 700 lpd yang ditargetkan melayani 56.000 pelanggan baru pada 4 Kecamatan, dan menginisiasi kerja sama Business to Business (B2B) pertama di Indonesia untuk penurunan Non-Revenue Water (NRW) melalui kemitraan dengan PT Adaro Tirta Mandiri senilai Rp248 Miliar.
Selain itu, ia juga menginisiasi dimulainya B2B Project dengan Konsorsium BUMN (PJT II, Danareksa, dan SUEZ) dalam pembangunan SPAM Bandung Terintegrasi yang berkapasitas 3.500 lps untuk 15 Kecamatan di Kota Bandung dengan nilai investasi 3,75 Trilyun rupiah untuk pembangunan sistem hulu dan hilir.
Dari berbagai program tersebut, walaupun masih dalam tahap penyerapan, Perumda Tirtawening Kota Bandung berhasil meningkatkan pendapatan 4-5 Milyar per bulan dari air minum dan 1,5 Milyar per bulan dari air limbah pada tahun 2025.
Berlandaskan integritas dan kepemimpinan berbasis karakter, tentunya ia berkomitmen penuh untuk membawa Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor menjadi BUMD kelas dunia melalui implementasi Smart Water Management dan inovasi pelayanan yang menjamin akses air minum berkualitas, merata, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.
Sebagai mantan Dirut PDAM Tirtawening Kota Bandung. Sonny Salimi adalah ‘orang dalam’ yang sudah sangat memahami anatomi teknis dan operasional di perumda air minum. Bukan hanya satu periode menjadi dirut, tentu Sonny menguasai teknis dan manajerial yang mendalam terhadap layanan air bersih.
Sedangkan Muzakkir, yang merupakan mantan Dirut Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ), dikenal sebagai figur yang membawa transformasi digital dan modernisasi pada pasar-pasar tradisional di Bogor.
Kemampuan dalam revitalisasi infrastruktur dan komunikasi publik yang luwes. Selama menjabat di PD PPJ, ia bisa mengubah citra pasar yang kumuh menjadi lebih tertata (misalnya Pasar Blok F).
Lelaki kelahiran Lhokseumawe pada Mei 1975 tersebut lulus dari IPB University pada 1998. Sejak lulus, ia sudah menjadi owner usaha komputer yang kemudian diberi nama PT Zoom Infotek Telesindo (Zoom Group). Disamping menjalankan usaha komputer, tahun 2000 ia juga harus menjalankan bisnis sebagai pemilik usaha Barona Tambak Udang dan Bandeng.
Saat menjabat sebagai Dirut PD PPJ Kota Bogor, Muzakkir telah berhasil membangun dan mengembangkan pasar-pasar rakyat, melakukan revitalisasi pasar-pasar modern di Kota Bogor, membenahi penataan lingkungan pasar, melakukan tertib administrasi hingga mengembalikan aset pasar Kota Bogor.
Ia melakukan adaptasi pasar online melalui aplikasi e-kujang yang mempermudah transaksi pembelajaan online. Pada 2021, Muzakkir mampu membawa Pasar Gunung Batu menjadi satu dari dua pasar rakyat yang ada di Jawa Barat yang mendapat sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia.
jika targetnya adalah stabilitas layanan, Sonny Salimi jauh lebih unggul. Karena, mengelola air adalah bisnis pelayanan publik yang sangat sensitif terhadap gangguan teknis. Pengalamannya bisa juga menjadi jaminan.
Secara objektif, keduanya masuk kandidat ‘kelas berat’. Namun, tantangan bagi Sonny adalah membuktikan bahwa ia masih memiliki ‘nafas baru’ meski kembali ke institusi yang serupa.
Pemenangnya kemungkinan besar adalah sosok yang paling mampu menyelaraskan antara target profitabilitas (bisnis) dengan kepuasan pelanggan (pelayanan) dalam paparan uji kelayakan mereka.
Jika kita menelisik lebih dalam mengenai kriteria teknis dalam seleksi Direksi BUMD (khususnya untuk jabatan Direktur Bisnis dan Pelayanan), terdapat tiga pilar utama yang biasanya menjadi batu ujian bagi Muzakkir maupun Sonny Salimi. Contohnya, pada sesi Uji Kelayakan dan Kepatutan (Fit and Proper Test)
Pada tahap ini, tim penguji yang kabarnya dari unsur akademisi, praktisi, dan birokrat akan membedah makalah visi dan misi.
Sonny Salimi akan ditantang untuk menunjukkan terobosan apa yang belum ia lakukan di periode saat ia memimpin PDAM Kota Bandung. Penguji akan mencari tahu apakah ia membawa solusi baru atau hanya sekadar melanjutkan pola lama. Lalu, Muzakkir kemungkinan akan diuji sejauh mana ia memahami Non-Revenue Water (NRW) atau tingkat kebocoran air, karena ini adalah kerugian bisnis utama di Perumda Tirta Pakuan.
Seorang Direktur Bisnis dan Pelayanan harus mampu menjawab sejumlah tantangan. Salah satunya memiliki kemampuan diplomasi stakeholder. Perlu diingat, Perumda Tirta Pakuan melayani kebutuhan dasar masyarakat, sehingga direktur terpilih harus mampu menghadapi dua sisi.
Sisi komersial yaitu menjaga margin keuntungan agar perusahaan tetap sehat dan memberikan PAD (Pendapatan Asli Daerah) ke Pemkot Bogor. Dan sisi Sosial, menghadapi resistensi masyarakat jika ada penyesuaian tarif atau gangguan distribusi air.
Jika proses seleksi ini mengedepankan profesionalisme murni, maka rekam jejak (portofolio) keberhasilan di jabatan sebelumnya akan menjadi penentu. Jadi, kita tunggu saja bagaimana nilai dua mantan dirut ini di serangkaian tes. Ditambah, apa ‘selera’ Dedie Rachim untuk mengisi posisi Direktur Bisnis dan Pelayanan ini.