Lingkup.id Uncategorized Jawa Barat Jadi Mesin Regenerasi Atlet Paralimpik Nasional
Uncategorized

Jawa Barat Jadi Mesin Regenerasi Atlet Paralimpik Nasional

Banner Iklan 1400 x 181

Lingkup.id, Bandung – Kontribusi atlet Jawa Barat dalam kontingen Indonesia pada ASEAN Para Games XIII/2026 di Thailand kembali menegaskan posisi provinsi ini sebagai salah satu pusat pembinaan olahraga disabilitas nasional. Tak hanya menyumbang medali dalam jumlah besar, Jawa Barat juga menjadi tulang punggung regenerasi atlet paralimpik Indonesia untuk ajang internasional mendatang.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Jawa Barat, Dr Hery Antasari, menilai capaian atlet Jawa Barat di ASEAN Para Games bukanlah hasil instan, melainkan buah dari pembinaan jangka panjang yang konsisten.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa sistem pembinaan kita berjalan. Regenerasi atlet ada, latihan berkesinambungan, dan hasilnya terlihat di level internasional,” ujar Hery saat penyambutan kontingen NPCI Jawa Barat di SPOrT Jabar Arcamanik, Kota Bandung, Rabu (28/1/2026).

Pada ASEAN Para Games XIII/2026, Indonesia finis sebagai juara umum kedua. Dari total perolehan 135 emas, 143 perak, dan 114 perunggu, atlet Jawa Barat menyumbang sekitar seperempat medali Indonesia, yakni 26 emas, 32 perak, dan 19 perunggu.

Menurut Hery, kontribusi tersebut tidak hanya besar secara kuantitas, tetapi juga strategis karena hampir 20 persen atlet nasional berasal dari Jawa Barat.

“Jawa Barat menyumbang sekitar 24 sampai 25 persen medali, dan jumlah atletnya juga hampir 20 persen dari total atlet Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan, capaian ini memperlihatkan bahwa jalur pembinaan olahraga disabilitas di Jawa Barat—mulai dari Peparda, Peparnas, hingga multi event internasional—telah berjalan selaras.

“ASEAN Para Games ini bukan tujuan akhir, tapi bagian dari tahapan menuju level yang lebih tinggi seperti Asian Para Games dan Paralimpiade,” kata Hery.

Terkait penghargaan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan akan memberikan apresiasi kepada para atlet berprestasi, menyesuaikan dengan mekanisme dan waktu penganggaran.

“Pasti akan kita pikirkan dan anggarkan. Tinggal menunggu waktu yang tepat,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua NPCI Jawa Barat, Hary Susanto, menilai kekuatan utama atlet Jawa Barat terletak pada faktor usia. Mayoritas atlet yang tampil di Thailand masih berusia muda, sehingga memiliki potensi besar untuk prestasi jangka panjang.

“Kalau melihat komposisi atlet Jawa Barat, ini sangat menjanjikan. Usianya masih muda semua, sehingga ke depan peluang prestasi masih sangat terbuka,” ujar Hary.

Ia optimistis kontribusi Jawa Barat akan semakin besar pada ASEAN Para Games berikutnya di Malaysia, serta Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang. Saat ini, sebanyak 24 atlet Jawa Barat telah dipanggil untuk memperkuat kontingen Indonesia dan masih menjalani pemusatan latihan nasional.

“Yang 24 atlet itu dipertahankan dan lanjut pelatnas. Ke depan jumlahnya sangat mungkin bertambah,” ungkapnya.

Meski demikian, Hary mengakui pembinaan atlet disabilitas di Jawa Barat belum merata di seluruh 27 kabupaten dan kota. Masih terdapat daerah yang belum memiliki wakil di ajang internasional.

“Inilah pekerjaan rumah kita. Setiap daerah harus punya ikon atlet agar pembinaan lebih hidup dan merata,” katanya.

Terkait rencana pelaksanaan Pekan Paralimpik Daerah (Peparda), Hary menyambut baik penunjukan Kota Bandung sebagai tuan rumah. Ia berharap ajang tersebut tetap digelar tahun ini agar tidak mengganggu siklus pembinaan atlet.

“Peparda sangat penting untuk regenerasi. Fasilitas di Bandung sudah memadai, tinggal memastikan pelaksanaan berjalan lancar,” pungkasnya.

Exit mobile version