August 31, 2026
Bandung, Jawa Barat
Informasi Olahraga & Kesehatan

NPCI Jabar Siapkan Lisensi Kepelatihan Khusus, Standar Pelatih Disabilitas Diperkuat

Lingkup.id – Bandung, National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Jawa Barat mulai menyiapkan standar baru bagi pelatih olahraga disabilitas melalui program lisensi kepelatihan khusus NPCI. Program tersebut ditargetkan mulai dibuka setelah pelaksanaan Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat 2026.

Rencana tersebut mengemuka dalam Workshop Penyusunan Program Latihan yang digelar NPCI Jawa Barat di Arion Suites Hotel, Jalan Otto Iskandar Dinata No. 16, Pasir Kaliki, Kota Bandung, Senin (31/8/2026).

Sekretaris Umum NPCI Jawa Barat, Andi Supriadi, mengatakan pihaknya saat ini tengah bekerja sama dengan tim Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) UPI Bandung untuk menyusun kurikulum serta program kerja lisensi kepelatihan khusus NPCI.

“Kami dengan tim FPOK UPI Bandung sedang merancang kurikulum dan program kerja karena kami menjalankan amanat dari Peraturan Kemenpora, bahwasanya pelatih itu sekarang harus berdasarkan lisensi,” ujar Andi.

Menurut Andi, lisensi tersebut nantinya menjadi salah satu standar dalam menentukan pelatih yang menangani atlet NPCI Jawa Barat. Program ini juga diharapkan menjadi fondasi pembinaan jangka panjang, termasuk persiapan menghadapi ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) berikutnya.

“Target kami, beres Peparda akan mengadakan lisensi kepelatihan khusus NPCI. Sekarang tim FPOK UPI Bandung sedang merancang kurikulumnya dan insya Allah ini terbuka untuk seluruh Jawa Barat,” katanya.

Andi menyebutkan, kebutuhan ideal pada tahap awal adalah sekitar tiga hingga empat pelatih untuk setiap cabang olahraga di tingkat Jawa Barat. Dengan 17 cabang olahraga yang dipersiapkan, pemenuhan kebutuhan pelatih akan dilakukan secara bertahap melalui proses rekrutmen dan sertifikasi.

“Untuk tingkat Jawa Barat dulu, idealnya tiga sampai empat pelatih per cabor. Nanti kita buka untuk seluruh Jawa Barat, siapa yang mau ikut kepelatihan untuk berlisensi menjadi pelatih NPCI,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Jawa Barat sekaligus Plt. Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Kesejahteraan, Aris Dwi Subiyantoro, menilai peningkatan kualitas pelatih harus berjalan beriringan dengan penguatan sistem pembinaan atlet.

Menurut Aris, salah satu cara meningkatkan kualitas atlet adalah memperbanyak kompetisi. Ajang pertandingan dinilai penting untuk memberikan pengalaman bertanding sekaligus membuka peluang munculnya bibit-bibit baru.

“Yang harus kita lakukan adalah memperbanyak event. Tentunya nanti bekerja sama dengan NPCI dan mitra dalam penyelenggaraan event,” katanya.

Selain kompetisi, Aris menekankan pentingnya membangun budaya olahraga sejak usia dini. Penjaringan atlet potensial pun akan diperkuat melalui Sekolah Luar Biasa (SLB) mulai jenjang SD, SMP hingga SMA. Namun, pencarian bakat tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah. “Banyak juga potensi atlet yang di luar sekolah, dan itu yang harus kita gali,” ujarnya.

Aris mengatakan, berdasarkan data yang diterimanya, saat ini terdapat sekitar 1.600 atlet disabilitas yang telah tercatat di Jawa Barat. Jumlah tersebut diyakini masih dapat bertambah sehingga penguatan basis data menjadi salah satu pekerjaan penting dalam sistem pembinaan.

“Yang kita kuatkan adalah data. Setelah itu kita arahkan klasifikasi. Dari klasifikasi, kita tentukan sejak awal, ‘Oh, ini bagusnya di cabang olahraga apa’,” katanya.

Penguatan kualitas pelatih juga dibarengi dengan upaya pemerataan tenaga pelatih di seluruh kabupaten dan kota. Aris menilai jumlah atlet yang cukup besar harus diimbangi dengan ketersediaan pelatih yang proporsional.

“Tidak mungkin atletnya 100, pelatihnya cuma satu. Jumlah pelatih harus kita kuatkan untuk mendampingi atlet-atlet ini,” tegasnya.

Karena itu, Dispora Jawa Barat bersama NPCI akan melakukan pemetaan kebutuhan pelatih berdasarkan 17 cabang olahraga yang dipersiapkan.

Selain jumlah, aspek kompetensi dan sertifikasi juga menjadi perhatian. Aris menegaskan, pelatih yang menangani atlet berprestasi harus memiliki kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.

“Kalau pelatih bukan bersertifikasi, mau dibawa ke mana atlet kita? Harus bersertifikasi,” ujarnya.

Ia berharap peningkatan kapasitas pelatih dapat dilakukan secara berkala, idealnya minimal tiga kali dalam setahun. Evaluasi juga perlu dilakukan berdasarkan hasil pertandingan agar program latihan dapat terus diperbaiki.

“Idealnya minimal tiga kali dalam setahun. Kita latih dulu, kemudian setelah ada Peparda pelatihan itu dilihat untuk mengevaluasi,” katanya.

Workshop Penyusunan Program Latihan NPCI Jawa Barat tersebut diikuti yang merupakan perwakilan kabupaten dan kota se-Jawa Barat. Setiap daerah mengirimkan dua perwakilan.

Andi menegaskan, penguatan lisensi kepelatihan menjadi prioritas NPCI Jawa Barat sebelum mengembangkan perangkat pertandingan khusus olahraga disabilitas.

“Mudah-mudahan ke depan ada perangkat pertandingan juga. Tetapi target utama dan prioritas yang lebih dahulu adalah lisensi kepelatihan,” pungkasnya.

Langkah tersebut diharapkan mampu membangun sistem pembinaan olahraga disabilitas yang lebih terukur, profesional, dan berkelanjutan. Dengan pelatih yang memiliki standar kompetensi jelas, proses pencarian bakat, pembinaan, hingga pencapaian prestasi atlet diharapkan dapat berjalan lebih optimal.***(Red).

    Lingkup.id Banner Iklan 960 x 150 px