Lingkup.id, Tasikmalaya – Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Baiturrohman Kabupaten Tasikmalaya melalui Majelis Taklim menebar kebaikan di bulan suci Ramadan dengan menyalurkan 190 paket kado Ramadan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, Kamis pagi (12/3/2026).
Kegiatan santunan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program Semarak Ramadan yang digelar selama tiga hari, mulai 11 hingga 13 Maret 2026 atau bertepatan dengan 21–23 Ramadan 1447 Hijriah.
Sebelum menerima paket bantuan, para penerima santunan terlebih dahulu mengikuti kegiatan siraman rohani yang diselenggarakan di lingkungan Masjid Agung Baiturrohman. Dalam kegiatan tersebut, mereka diberikan pemahaman mengenai keutamaan bulan suci Ramadan serta pentingnya memperkuat nilai-nilai spiritual dan kepedulian sosial.
Seksi Majelis Taklim DKM Masjid Agung Baiturrohman, Hj. Dedeh Murodah, mengatakan santunan kepada yatim dan dhuafa merupakan salah satu agenda utama dalam rangkaian kegiatan Semarak Ramadan tahun ini.
“Tahun ini kami menyelenggarakan banyak kegiatan, salah satunya santunan bagi yatim dan dhuafa. Kami ingin menegaskan bahwa ibadah tidak hanya berhenti pada ritual di atas sajadah, tetapi juga harus hadir menyentuh mereka yang sering terlupakan,” ujar Dedeh.
Ia berharap kepedulian terhadap anak yatim dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Menurutnya, perhatian terhadap mereka bukan hanya bernilai sosial, tetapi juga memiliki keutamaan besar dalam ajaran agama.
Di sisi lain, Ketua Bidang Idaroh DKM Masjid Agung Baiturrohman, Cecep, mengaku bersyukur karena pihaknya masih dapat secara konsisten menghadirkan program berbagi di bulan Ramadan.
“Ramadan adalah bulan berbagi. Memuliakan anak yatim dan dhuafa merupakan perintah yang memiliki dampak sosial besar bagi kehidupan masyarakat,” kata Cecep.
Cecep menambahkan, kegiatan santunan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi mampu menumbuhkan semangat kepedulian sosial yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
“Kami berharap semangat berbagi yang terbangun selama Ramadan tidak berhenti setelah bulan suci berakhir. Kegiatan ini juga menjadi refleksi bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat solusi sosial bagi masyarakat,” tegasnya.


