Lingkup.id, Subang — Air yang semula keruh kini perlahan kembali jernih. Di tengah tekanan kekeringan yang sempat mengganggu kualitas dan distribusi air bersih, Perumda Tirta Rangga Subang memilih berinovasi melalui pembangunan Water Treatment Plant (WTP) di wilayah Cijambe.
Berdiri di atas lahan sekitar satu hektare, instalasi pengolahan air ini menjadi solusi atas menurunnya debit dan kualitas air baku yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Direktur Utama Perumda Tirta Rangga Subang, Lukman Nurhakim, mengungkapkan bahwa kondisi kekeruhan air saat itu tergolong ekstrem. Tidak hanya debit air yang menurun, kualitasnya pun ikut terdampak signifikan.
Alih-alih membeli instalasi baru dengan biaya besar, pihaknya memilih melakukan modifikasi teknologi WTP dengan anggaran yang jauh lebih efisien.
“Dengan modifikasi ini, kita tetap bisa menghadirkan kualitas air yang lebih baik tanpa membebani anggaran secara berlebihan,” ujar Lukman.
Pembangunan WTP tersebut hanya menghabiskan anggaran sekitar Rp1,2 miliar dari APBD 2025. Angka ini jauh lebih hemat dibandingkan pengadaan unit baru yang bisa mencapai Rp15 hingga Rp20 miliar.
Inovasi ini tidak lahir secara instan. Prosesnya melalui tahapan panjang, mulai dari perencanaan, penyusunan desain, hingga eksekusi di lapangan, dengan melibatkan konsultan dan tenaga ahli.
Hasilnya mulai terlihat. Kualitas air yang sebelumnya keruh kini meningkat hingga 60 persen. Sementara itu, peningkatan lebih lanjut masih terus diupayakan, terutama pada proses pengendapan.
Tak hanya berdampak pada pelayanan, inovasi ini juga mendapat respons positif dari berbagai daerah. Bahkan, sejumlah wilayah seperti Karawang dan Rembang mulai menunjukkan minat untuk mempelajari teknologi tersebut.
WTP sendiri merupakan sistem pengolahan air baku menjadi air bersih layak konsumsi melalui serangkaian proses penyaringan dan pengendapan.
Di Cijambe, instalasi ini memiliki kapasitas hingga 120 liter per detik, yang mampu menyuplai kebutuhan air bersih bagi ribuan pelanggan di wilayah Cijambe, Subang, hingga Cibogo, termasuk kawasan industri.
Saat ini, WTP masih dalam tahap uji coba selama satu bulan. Meski baru berjalan dua pekan, dampaknya sudah mulai dirasakan oleh masyarakat.
Kehadiran WTP Cijambe juga melengkapi enam instalasi serupa yang telah lebih dulu beroperasi di Binong, Compreng, Pamanukan, Ciasem, Purwadadi, dan Kalijati.
Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, inovasi ini menjadi bukti bahwa pelayanan publik tetap bisa berjalan optimal melalui kreativitas, kolaborasi, dan efisiensi—bahkan di tengah keterbatasan dan tantangan alam.(HR)


