Lingkup.id Serba - Serbi Hukum & Kriminal Di Sekolah yang Sama, Siswa SDN Jayamukti Blanakan Diduga Jadi Korban Perundungan, Alami Retak Leher
Hukum & Kriminal Informasi Jawa Barat Pendidikan Subang

Di Sekolah yang Sama, Siswa SDN Jayamukti Blanakan Diduga Jadi Korban Perundungan, Alami Retak Leher

Banner Iklan 1400 x 181

Lingkup.id, Subang – Kasus perundungan yang mengakibatkan korban tak berdaya kembali diduga terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Jayamukti, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang.

Peristiwa tersebut saat ini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian sektor setempat. Korban yang merupakan siswa kelas 6 kini dalam kondisi lemah dan harus menjalani perawatan intensif setelah mengalami retak tulang di bagian leher.

Menurut keterangan ibu korban, kejadian berlangsung pada Rabu, 1 April 2026, sekitar pukul 13.30 WIB, usai kegiatan olahraga di sekolah.

Saat itu, korban bersama teman-temannya tengah saling memijat. Namun tiba-tiba, seorang siswa berinisial M datang dan langsung melintir kepala korban hingga korban merasakan kesakitan hebat dan pingsan. Teman-teman korban kemudian membawa korban pulang ke rumah orang tuanya.

Kapolsek Blanakan melalui Kanit Reskrim Aiptu Haris menyatakan pihaknya masih mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak. Setelah proses penyelidikan selesai, kasus ini akan dilimpahkan ke Mapolres Subang untuk penanganan lebih lanjut.

“Untuk sementara kami masih mendalami kasus ini dengan mengumpulkan keterangan saksi-saksi,” ujarnya.

Sebelumnya, kasus perundungan di wilayah yang sama juga sempat terjadi dan menyita perhatian publik. Pada November 2024, seorang siswa SD berinisial AR (8) meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan dan penganiayaan oleh kakak kelasnya.

Korban yang saat itu duduk di kelas 3 diduga dianiaya oleh siswa kelas 4 dan 5. Ia sempat menjalani perawatan intensif di ICU RSUD Ciereng Subang dalam kondisi koma selama beberapa hari, sebelum akhirnya meninggal dunia pada Senin, 25 November 2024.

Perundungan tersebut diduga dipicu karena korban menolak memberikan uang kepada pelaku. Kasus ini pun memicu keprihatinan luas, termasuk dari jajaran pemerintah daerah dan aparat kepolisian.

Pasca kejadian tersebut, pihak sekolah terkait dikabarkan mendapat sanksi, termasuk penonaktifan kepala sekolah sebagai bentuk evaluasi.(Hry)

Exit mobile version