
*BOGOR*Lingkup.id – Bupati Bogor Rudy Susmanto mengajak masyarakat menjadikan Malasari sebagai simbol kebangkitan dan pengingat sejarah Kabupaten Bogor. Ia menegaskan kawasan tersebut tidak boleh tertinggal dalam pembangunan.
“Jangan sampai titik awal Bogor berdiri justru menjadi titik paling belakang dalam perkembangan Kabupaten Bogor,” kata Rudy saat menghadiri kegiatan di Malasari, Senin 20 Juli 2026.
Ajakan itu disambut PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) dengan menggelar diskusi, napak tilas, dan penanaman bibit pohon endemik Nirmalasari serta pohon keras lainnya. Penanaman dilakukan di kawasan hutan dan pegunungan Malasari sebagai upaya rehabilitasi lingkungan dan menjaga sumber air.
Kegiatan ini menghadirkan tokoh masyarakat, akademisi, pegiat lingkungan, dan warga setempat.
Usep Malasari, keturunan generasi keempat Kepala Desa Malasari pertama, menceritakan rumahnya menjadi saksi sejarah saat Bupati pertama Raden Ipik Gandamana menjadikan Malasari pusat pemerintahan darurat saat Agresi Militer Belanda II 1948.
“Beliau memutuskan Malasari sebagai tempat paling aman. Rumah ini masih menyimpan bendera pusaka 1948 dan meja perjuangan,” ujar Usep.
Akademisi Dr. Yayan Sudrajat menekankan pentingnya pemetaan mata air dan gerakan TOGA untuk ketahanan lingkungan. Sementara Laboratory Manager PPLI Muhammad Yusuf Firdaus menegaskan perusahaan berkomitmen menjaga alam.
“Kita hanya meminjam warisan alam dari generasi mendatang. Karena itu wajib kita jaga dan kembalikan dalam kondisi baik,” katanya.
Yusuf berharap pohon yang ditanam tidak berhenti seremonial, tapi benar-benar dirawat untuk keberlanjutan Malasari.(Punk)

