Lingkup.id Serba - Serbi Informasi Perjuangan Warga Menantang Maut Menyeberangi Sungai Berakhir, PUPR Subang Perbaiki Jembatan Gantung Cigebang
Informasi Jawa Barat Pemerintah Peristiwa Subang

Perjuangan Warga Menantang Maut Menyeberangi Sungai Berakhir, PUPR Subang Perbaiki Jembatan Gantung Cigebang

Banner Iklan 1400 x 181

Lingkup.id, SUBANG – Senyum lega kini menghiasi wajah warga Dusun Cigebang, Desa Talagasari, Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang. Setelah bertahun-tahun dihantui rasa waswas saat menyeberang, jembatan gantung yang menjadi akses utama aktivitas mereka akhirnya diperbaiki secara menyeluruh oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Subang.

Bagi warga Cigebang, jembatan ini bukan sekadar penghubung dua wilayah. Jembatan sepanjang 48 meter tersebut merupakan urat nadi kehidupan yang menghubungkan aktivitas sekolah, pekerjaan, pertanian, hingga roda perekonomian masyarakat.

Namun usia jembatan yang sudah mencapai dua dekade membuat kondisinya semakin memprihatinkan. Dibangun pada tahun 2006 melalui program PMPM kecamatan dengan usia rancang hanya tiga tahun, jembatan itu terus digunakan hingga hampir 20 tahun lamanya.

Seiring waktu, lantai jembatan mulai rapuh, kabel sling menua, dan struktur semakin bergoyang setiap kali dilintasi. Kondisi itu membuat warga harus mempertaruhkan keselamatan setiap hari.

Karena goyangannya yang ekstrem, warga bahkan memberi julukan khusus: “Jembatan Istighfar.”

Setiap kali melintas, tak sedikit warga yang spontan mengucapkan istighfar karena khawatir jembatan akan ambruk. Julukan itu lahir dari pengalaman nyata dan ketakutan yang mereka rasakan selama bertahun-tahun.

“Kami menyebutnya Jembatan Istighfar. Setiap lewat pasti istighfar karena goyang sekali,” kenang Dadang, salah seorang warga Cigebang, Senin (22/6/2026).

Kenangan pahit masih membekas di benak warga. Mereka pernah menyaksikan seorang nenek terjatuh dari atas jembatan akibat kondisi yang sudah tidak layak. Bahkan ketika kerusakan semakin parah dan jembatan tak bisa digunakan, warga terpaksa turun ke bawah dan menyeberangi sungai secara langsung.

Saat musim hujan tiba dan debit air sungai meningkat, aktivitas masyarakat praktis lumpuh total. Para pekerja yang hendak menuju pabrik, anak-anak yang berangkat sekolah, hingga petani yang harus mengangkut hasil kebun sering kali tidak dapat menyeberang.

“Kalau sungai banjir, semuanya terhambat. Ada yang terpaksa menginap karena tidak bisa pulang. Pengendara dari luar daerah juga sering mentok lalu balik lagi,” ujar Dadang.

Kini harapan itu mulai kembali tersambung.
Pemerintah Kabupaten Subang melalui Bidang Pemeliharaan Dinas PUPR melakukan perbaikan jembatan dengan metode swakelola dan anggaran sebesar Rp99.720.000.

Perbaikan meliputi penggantian seluruh papan lantai jembatan, penggantian kabel sling utama, penambalan besi yang keropos, pemasangan empat sayap penahan untuk mengurangi goyangan, hingga pengecatan ulang.

Bagi warga, pekerjaan tersebut bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga mengembalikan rasa aman yang selama ini hilang.

“Tadinya Jembatan Istighfar, sekarang mudah-mudahan jadi Jembatan Alhamdulillah. Sesuai harapan masyarakat,” kata Dadang sambil tersenyum.

Kepala Bidang Pemeliharaan Dinas PUPR Kabupaten Subang, David Samsi, mengatakan perbaikan ditargetkan selesai dalam waktu sekitar tiga minggu. Penguatan struktur dilakukan agar jembatan aman digunakan masyarakat, terutama kendaraan roda dua yang menjadi moda transportasi utama warga.

“Alhamdulillah kami bisa kembali diberi tugas memperbaiki jembatan ini. Ini akses penting yang menghubungkan wilayah Serangpanjang dengan Banggalamulya, Kalijati. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa,” ujar David.

Ia juga mengapresiasi semangat gotong royong warga, BPD, serta jajaran RT dan RW yang ikut membantu proses pengerjaan di lapangan.

Tak lama lagi, jembatan yang dulu membuat warga berdebar setiap kali melintas akan hadir dengan wajah baru. Dari sebuah jembatan yang identik dengan rasa takut dan kecemasan, kini berubah menjadi simbol harapan, keselamatan, dan kebersamaan.

Bagi warga Cigebang, perbaikan ini bukan hanya tentang besi, kabel, dan papan yang diganti. Lebih dari itu, ini adalah tentang tersambungnya kembali kehidupan mereka.(HR)

Exit mobile version