July 7, 2026
Bandung, Jawa Barat
Jawa Barat Sumedang

Pedagang Pasar Cimalaka Sumedang Blokade Jalur Nasional, Tuntut Dialog Sebelum Revitalisasi

Lingkup.id, Sumedang – Ratusan pedagang Pasar Cimalaka yang tergabung dalam Ikatan Warga Pasar Cimalaka (Ikwapaci), Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menggelar aksi unjuk rasa dengan memblokade Jalan Nasional Bandung-Cirebon, Senin (6/7/2026).

Aksi tersebut dilakukan, sebagai bentuk protes terhadap rencana pengosongan pasar yang akan dilakukan untuk mendukung proyek revitalisasi, yang rencananya sudah berlangsung sejak 2023.

Dalam aksi itu, massa membakar ban bekas, membentangkan spanduk berisi tuntutan penundaan pengosongan pasar, serta menutup akses jalan nasional. Akibatnya, arus kendaraan dari arah Bandung menuju Cirebon maupun sebaliknya mengalami kemacetan panjang karena kendaraan tidak dapat melintas.

Petugas gabungan dari Polres Sumedang, Dinas Perhubungan, dan Satpol PP diterjunkan untuk mengamankan situasi sekaligus mengurai kepadatan lalu lintas. Kendaraan dialihkan ke sejumlah jalur alternatif hingga kondisi lalu lintas berangsur normal.

Ketua Ikwapaci, Dian Kusdian mengatakan, para pedagang tidak menolak program revitalisasi Pasar Cimalaka. Namun, mereka keberatan apabila pengosongan kios dilakukan sebelum adanya kesepakatan mengenai lokasi relokasi sementara serta kepastian terkait kios yang akan ditempati setelah pembangunan selesai.

“Kita mempertahankan hidup. Soalnya ukuran dan harga sewa belum pernah dimusyawarahkan dan menurut kami tidak sesuai. Otomatis perekonomian atau perdagangan kami tidak bisa berlanjut,” kata Dian.

Menurut Dian, hingga kini para pedagang belum pernah dilibatkan dalam pembahasan mengenai besaran biaya sewa maupun ukuran kios baru. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan ketidakpastian bagi kelangsungan usaha para pedagang.

Selain itu, lokasi relokasi sementara di kawasan Alun-alun Kecamatan Cimalaka dinilai tidak memadai untuk mendukung aktivitas perdagangan. Ia mencontohkan pedagang daging yang menggunakan lemari pendingin berukuran besar hanya mendapat ruang relokasi berukuran sekitar 1,5 x 2 meter, sehingga dinilai tidak memungkinkan untuk menjalankan usaha secara optimal.

“Contohnya tukang daging punya kulkas sampai tiga meter, di alun-alun dikasih tempat 1,5 x 2 meter. Mau bagaimana berdagangnya? Itu kan bukan waktu yang sebentar,” tambahnya.

Dian menegaskan, para pedagang hanya menginginkan adanya dialog dengan pemerintah sebelum proses pengosongan dilakukan. Menurutnya, keberlangsungan usaha para pedagang berkaitan langsung dengan kebutuhan hidup keluarga, biaya pendidikan anak, hingga kewajiban membayar cicilan.

“Para pedagang harus bertahan hidup, menyekolahkan anak, punya cicilan motor dan sebagainya. Tiba-tiba dipindahkan paksa ke sana tanpa diselesaikan dulu, apa yang akan terjadi dengan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan banyaknya aparat keamanan yang diterjunkan sebelum aspirasi para pedagang mendapat tanggapan dari pengelola pasar, yakni Pemerintah Desa Cimalaka.

“Kalau rumah tangganya diganggu, pasti mati-matian membela. Apalagi ini kehidupan sehari-hari, penghasilan keluarga. Kalau saya tidak bertahan, kami semua yang 140 pedagang tidak bertahan, ya akan mati pelan-pelan di pasar baru yang dibangun nanti,” pungkasnya.

Hingga sore hari, ratusan pedagang masih bertahan di area Pasar Cimalaka dan menyatakan akan tetap menempati kios mereka sampai pemerintah bersedia membuka ruang musyawarah mengenai skema relokasi, ukuran kios baru, serta besaran biaya sewa pascarevitalisasi.

Sementara itu, aparat keamanan tetap bersiaga di sekitar lokasi untuk mengantisipasi perkembangan situasi. Arus lalu lintas di Jalan Nasional Bandung-Cirebon yang sebelumnya sempat lumpuh dan buka tutup, telah berangsur normal.

    Lingkup.id Banner Iklan 960 x 150 px