Lingkup.id Serba - Serbi Bisnis Debit Sungai Turun Drastis Akibat Kemarau, Pasokan Air Bersih 2.500 Pelanggan Perumda TRS Terancam
Bisnis Informasi Jawa Barat Peristiwa Subang

Debit Sungai Turun Drastis Akibat Kemarau, Pasokan Air Bersih 2.500 Pelanggan Perumda TRS Terancam

Banner Iklan 1400 x 181

Lingkup.id, SUBANG — Musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak terhadap sumber air baku Perumda Air Minum Tirta Rangga Subang (Perumda TRS).

Debit Sungai Cikembang dan Citombe di Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, dilaporkan mengalami penurunan cukup drastis. Kondisi tersebut membuat Perumda TRS meningkatkan kewaspadaan terhadap keberlangsungan pasokan air bersih bagi ribuan pelanggan.

Penurunan debit air terlihat di Unit Pengolahan Air (UPA) Tanjungsiang yang berada di Desa Buniara, Kecamatan Tanjungsiang. Unit tersebut mengandalkan sumber air baku dari aliran sungai untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di Tanjungsiang dan wilayah sekitarnya.

UPA Tanjungsiang memiliki kapasitas pengolahan maksimal sekitar 30 liter per detik dan saat ini melayani sekitar 2.500 pelanggan.

Direktur Utama Perumda TRS, Lukman Nurhakim, mengatakan dalam tiga bulan terakhir debit sumber air mengalami penurunan hingga sekitar 60 persen.

“Debitnya sekarang memang turun cukup drastis. Kurang lebih sampai 60 persen dibandingkan kondisi normal,” kata Lukman.

Meski demikian, menurut Lukman, proses produksi air bersih hingga saat ini masih dapat dipertahankan. Namun, kondisi sumber air baku yang semakin terbatas membuat operasional harus dilakukan secara lebih hati-hati.

“Kita masih bisa produksi, tetapi kondisinya memang pas-pasan. Karena itu operator kita minta lebih waspada dan memastikan proses produksi berjalan seoptimal mungkin,” ujarnya.

Perumda TRS juga mengantisipasi kemungkinan kondisi yang lebih berat apabila hujan belum turun dalam waktu dua bulan ke depan dan debit sungai terus mengalami penyusutan.

Pasalnya, sumber air baku di wilayah Tanjungsiang masih sangat bergantung pada kondisi sungai alam.

Lukman menuturkan, penurunan debit bukan satu-satunya persoalan yang harus diantisipasi. Perubahan musim juga turut memengaruhi kualitas air baku.

Saat musim kemarau, air sungai cenderung lebih bening. Namun ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air sungai justru dapat berubah menjadi sangat keruh sehingga proses pengolahan membutuhkan penanganan lebih.

“Kalau musim kemarau airnya memang cenderung bening. Tetapi ketika hujan, air bakunya bisa sangat keruh, sehingga proses pengolahan juga menjadi lebih berat,” jelasnya.

Menurut Lukman, kondisi sumber air di wilayah tersebut juga mulai berbeda dibandingkan lima hingga sepuluh tahun lalu.

Penurunan debit serta perubahan kondisi alam menjadi hal yang terus dipantau Perumda TRS untuk menjaga keberlangsungan produksi air bersih.

“Kita terus memantau kondisi sumber air ini. Jangan sampai penurunan debit semakin parah dan kemudian mengganggu kontinuitas pelayanan kepada pelanggan,” katanya.

Hingga saat ini, produksi air bersih di UPA Tanjungsiang masih dapat dipertahankan. Namun Perumda TRS menegaskan akan terus melakukan langkah antisipasi apabila debit sungai kembali menurun.

Lukman juga mengimbau agar penggunaan air dilakukan secara efisien selama kondisi kemarau berlangsung. Penghematan air dinilai penting untuk menjaga ketersediaan sumber air baku sekaligus mempertahankan pelayanan kepada sekitar 2.500 pelanggan.

“Kami mengimbau pelanggan untuk menggunakan air secara efisien. Kondisi sumber air seperti ini harus kita jaga bersama agar pelayanan tetap bisa berjalan,” pungkasnya. (HR)

Exit mobile version