Lingkup.id, Sumedang – Rumah milik Deni H Perkasa (63), warga Dusun Cimuja RT 01/RW 01, Desa Cimuja, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang kondisinya nyaris ambruk kini mulai diperbaiki secara gotong royong.
Renovasi dilakukan Keluarga Besar Kayungyun Kartika Cimalaka bersama Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kabupaten Sumedang Egi Permana dan Wakil Ketua Lembaga Faki. Perbaikan dilakukan setelah kondisi rumah dinilai membahayakan penghuni.
Rumah tersebut dihuni delapan orang yang berasal dari dua kepala keluarga. Kondisinya semakin mengkhawatirkan setelah bangunan terdampak getaran gempa pada Mei 2025.
Ketua IMI Kabupaten Sumedang Egi Permana mengatakan, kondisi rumah membuat pihaknya khawatir bangunan roboh dan menimbulkan korban.
“Yang kami khawatirkan bukan hanya rumahnya roboh, tetapi juga keselamatan penghuni,” kata Egi usai meresmikan dan penyerahan kunci rumah, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, proses renovasi telah berlangsung selama 16 hari dan saat ini mencapai sekitar 85 persen. Pekerjaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu pekan lagi untuk menyelesaikan bagian finishing.
“Alhamdulillah 16 hari kita sudah bisa selesaikan. Ya masih satu minggu lagi, tinggal finishing satu minggu lagi selesai,” ujarnya.
Egi mengatakan, bantuan tersebut diberikan karena kondisi rumah membutuhkan penanganan segera. Ia juga memahami keterbatasan pemerintah setempat karena anggaran untuk tahun berjalan telah dialokasikan untuk kebutuhan lainnya.
“Musibah tidak selalu datang di awal atau pertengahan tahun. Kebetulan kondisi rumah ini membutuhkan penanganan ketika anggaran yang tersedia sudah digunakan,” ucapnya.
Ia berharap perbaikan rumah Deni dapat mendorong masyarakat untuk kembali menguatkan budaya gotong royong, terutama ketika ada warga yang membutuhkan bantuan.
“Harapan saya dengan bantuan ini dapat meningkatkan antusias warga untuk gotong royong saling bahu membahu, bantu membantu satu sama lain,” ungkapnya.
Sementara itu pemilik rumah, Deni mengaku lega setelah rumah yang selama ini ditempatinya mulai diperbaiki. Sebelum direnovasi, ia mengaku kerap merasa cemas setiap malam karena kondisi bagian atap rumah yang sudah melengkung dan dikhawatirkan roboh.
“Saya tiap malam tidak bisa tidur karena atap dan langit-langit sudah melengkung. Takut roboh,” ujar Deni.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Egi dan warga yang ikut membantu proses renovasi. Deni mengatakan, rumah tersebut sebenarnya pernah mendapat program perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) pada 2019.
Namun, kerusakan kembali terjadi seiring berjalannya waktu sehingga diperlukan perbaikan lanjutan. Kini, pekerjaan renovasi masih menyisakan sekitar 15 persen.
“Perasaan sekarang bangga sekali. Saya tidak bisa berkata apa-apa sulit untuk berkata-kata. Dikarenakan apa, yang tadi bukan aparatur desa membiarkan, dikarenakan anggarannya sudah habis untuk 2026,” pungkasnya.


