Lingkup.id – Bandung, National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jawa Barat terus memperkuat kualitas pembinaan atlet disabilitas melalui peningkatan kompetensi pelatih. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan menghadapi Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) Jawa Barat 2026 yang akan berlangsung di Kota Bandung.
Upaya tersebut diwujudkan melalui penataran dan pelatihan kondisi fisik bagi pelatih NPCI kabupaten dan kota se-Jawa Barat yang digelar di Hotel El Cavana, Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, Rabu (19/8/2026).
Sekretaris Umum NPCI Jawa Barat, Andi Supriadi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kerja Bidang Prestasi NPCI Jawa Barat. Pelatihan difokuskan pada peningkatan pemahaman pelatih mengenai penyusunan dan penerapan program kondisi fisik bagi atlet disabilitas.
“Agenda penataran pelatihan fisik ini merupakan bagian daripada program kerja Bidang Prestasi NPCI Jawa Barat,” ujar Andi.
Dalam kegiatan tersebut, masing-masing NPCI kabupaten dan kota mengirimkan dua orang pelatih. Para peserta diharapkan tidak hanya memahami materi yang diberikan, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam program pembinaan di daerah masing-masing.
“Harapannya para pelatih di daerah masing-masing bisa mengaplikasikan teori tentang bagaimana atlet-atlet NPCI Jawa Barat mempunyai fisik yang kuat,” katanya.
Menurut Andi, peningkatan kondisi fisik merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun performa atlet. Kebugaran dan kekuatan fisik yang baik akan mendukung perkembangan teknik, kemampuan bertanding, hingga kesiapan mental atlet.
Pelatihan tersebut juga menjadi bagian dari persiapan menuju Peparda Jawa Barat 2026. NPCI Jabar berharap materi yang diperoleh pelatih dapat segera diterapkan sehingga proses pembinaan di setiap daerah semakin terarah.
Dari sisi materi, pelatihan menghadirkan tiga pemateri dari Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Peserta berasal dari berbagai cabang olahraga dengan syarat memiliki latar belakang sebagai pelatih di daerah masing-masing.
Salah satu pemateri, Dosen Ilmu Keolahragaan Finaldi Palgunadi, mengatakan materi yang diberikan berfokus pada kondisi fisik, khususnya komponen kekuatan yang memiliki peran penting dalam meningkatkan performa atlet.
“Materi yang saya sampaikan mengenai kondisi fisik kekuatan. Tujuannya bagaimana menjabarkan kondisi kekuatan untuk meningkatkan performance atlet,” kata Finaldi.
Ia menjelaskan terdapat empat komponen utama kondisi fisik yang perlu diperhatikan dalam pembinaan atlet, yakni fleksibilitas, kecepatan, kekuatan, dan daya tahan.
Menurutnya, prinsip tersebut juga berlaku bagi atlet disabilitas, namun penerapannya harus disesuaikan dengan karakteristik, kondisi, dan kebutuhan masing-masing atlet serta cabang olahraga.
“Di luar atlet normal, atlet disabilitas pun perlu meningkatkan empat komponen tersebut,” ujarnya.
Finaldi menilai mayoritas peserta telah memiliki pengalaman sebagai praktisi dan pelatih. Karena itu, pelatihan tidak cukup berhenti pada penyampaian teori, tetapi perlu dilanjutkan dengan evaluasi dan praktik agar kemampuan pelatih benar-benar dapat terukur.
Ia mendorong adanya pelatihan berkelanjutan berdasarkan jenjang dan tingkat lisensi pelatih.
“Harus ada pelatihan lanjutan berdasarkan level atau tingkat lisensi pelatih. Setiap tahun menurut saya tetap harus ada,” tuturnya.
Selain materi teori, pelatih juga dinilai perlu mendapatkan tugas praktik seperti menyusun program latihan dan periodisasi. Dengan cara tersebut, kemampuan pelatih dalam menerjemahkan teori ke dalam program latihan dapat dievaluasi secara langsung.
“Harusnya ada feedback. Mereka bisa membuat program latihan atau minimal program periodisasi latihan. Dari situ kita bisa melihat kemampuan mereka dan bagaimana penerapannya di setiap cabang olahraga,” katanya.
Peningkatan kompetensi pelatih NPCI Jawa Barat tidak berhenti pada pelatihan kondisi fisik. NPCI Jabar telah menyiapkan rangkaian program lanjutan sebagai bagian dari penguatan sistem kepelatihan.
Pada 31 Agustus hingga 1 September 2026, NPCI Jawa Barat dijadwalkan menggelar workshop penyusunan program kerja kepelatihan. Selanjutnya, pada September 2026 akan dilaksanakan pelatihan klasifikasi.
Dengan demikian, terdapat tiga agenda utama Bidang Prestasi NPCI Jabar menjelang Peparda 2026, yakni pelatihan kondisi fisik, workshop penyusunan program kerja pelatih, dan pelatihan klasifikasi.
Andi mengatakan rangkaian kegiatan tersebut diarahkan untuk menyetarakan kualitas pembinaan di seluruh NPCI kabupaten dan kota di Jawa Barat.
Dalam jangka panjang, NPCI Jabar menargetkan memiliki pelatih yang kompeten, memiliki lisensi, serta memahami secara khusus karakteristik kepelatihan atlet disabilitas.
“Goal-nya, ending-nya adalah bagaimana kita nanti di Pelatda jangka panjang untuk persiapan Peparnas, para pelatih itu sudah mengenal tentang kepelatihan di NPCI,” ungkap Andi.

Sementara itu, Finaldi menilai kualitas pelatih merupakan salah satu faktor penting dalam membangun prestasi atlet. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya bergantung pada kemampuan atlet, tetapi juga kualitas orang-orang yang mendampingi dan menyusun program latihan.
“Fondasi prestasi bukan hanya dari atlet, tetapi dari semua stakeholder, salah satunya pelatih yang memegang dan mendampingi atlet setiap hari,” tegasnya.
Ia berharap program peningkatan kapasitas tersebut dilakukan secara konsisten sehingga ilmu yang diperoleh pelatih dapat benar-benar diterapkan dalam pembinaan.
Dengan semakin kuatnya kompetensi pelatih dan sistem pembinaan yang terarah, NPCI Jawa Barat berharap kualitas performa atlet terus meningkat, tidak hanya untuk menghadapi Peparda 2026, tetapi juga sebagai bagian dari persiapan menuju kompetisi nasional seperti Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas).
“Harapannya NPCI Jabar dengan melakukan penataran seperti ini bisa memberikan keilmuan yang dapat diterapkan kepada atlet masing-masing. Yang pasti, diharapkan performance NPCI Jabar semakin meningkat,” pungkas Finaldi.***(Red)


